Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Minggu, 22 September 2019
Soal cinta
Jika cinta itu mudah, mengapa sulit untuk terucap.
Jika rindu itu hadir, mengapa enggan tuk bertemu.
Jika kasih itu kau, mengapa pergi tanpa menyapa.
Jika kisah itu aku, mengapa bertahan sekian lama.
Sabtu, 13 Oktober 2018
Dia
tak lelah kumemandang.
seseorang yang jauh disana.
yang sangat ku rundukan.
I said to god.
dialah orang yang slama ini ku kagumi.
Langit senja seperti dirimu.
Ombak lembut sedamai sikapmu.
Violet jiwamu.
Engkau yang buta disana .
Untukmu puisi ini ku tunjukan.
Sejujurnya saya selalu menuliskan pesan tersirat dalam beberapa puisi saya.. Hanya untuk kamu menyadarinya. Jikalau kau ingin tahu apa judul puisi ini. Cobalah tarik huruf pertama disetiap lariknya. Dan jika kau menemukan kata lainnya.. Sstt.. Itu cukup kamu yg tahu..
seseorang yang jauh disana.
yang sangat ku rundukan.
I said to god.
dialah orang yang slama ini ku kagumi.
Langit senja seperti dirimu.
Ombak lembut sedamai sikapmu.
Violet jiwamu.
Engkau yang buta disana .
Untukmu puisi ini ku tunjukan.
Sejujurnya saya selalu menuliskan pesan tersirat dalam beberapa puisi saya.. Hanya untuk kamu menyadarinya. Jikalau kau ingin tahu apa judul puisi ini. Cobalah tarik huruf pertama disetiap lariknya. Dan jika kau menemukan kata lainnya.. Sstt.. Itu cukup kamu yg tahu..
Minggu, 07 Oktober 2018
puisi tentangku
Membiru jika ia di pagi hari
Menjingga saat petang menghampiri
Kau tampak semu di mata ini
Entah warna apa yang kau ciptakan
Yang kutahu
Kau adalah warnaku
.
.
Untuk saat ini
Hanya ada dua persoalan yang tak kupahami
Pertama, kenapa kau seperti itu?
Kedua, mengapa aku seperti ini?
Dan satu lagi persoalan yang sebenarnya belum terakurasi betul
Apakah kita sudah berakhir?
.
.
Rangkaian kata tanpa cerita
Disini kau berperan
Menjadi lelakon utama yang ku fokuskan
Haruskah aku mengakhirinya?
Tunggu..
Apa kita pernah memulainya?
.
.
Sulit untuk terucap lewat bibir ku
Namun wajib hukumnya kau ketahui
Bahwa tidak ada yang baik-baik saja pada diri ini
Kacau ketika kau hanya melintas didepanku
Belum lagi ketika kau tertawa pada gadis lain
Heeyy !!!!
Apakah aku tampak semu dimata mu?
.
.
Riuh bergema pada ruang ini
Sibuk bercerita ini dan itu
Terbahak bahkan tersedak
Kugenggam botol air yang baru saja kubeli
Semilir rindu merambat laun menuju telingaku
Sensor ini mengapa berfungsi kembali?
Bahkan aku mampu mendeteksi keberadaan mu
Hanya dengan tawa mu
Dari sekian jenis suara diruangan ini
Suara bass mu mampu menarik indra ku
Aahh, dia sedang bersama temannya di pojok sana
.
.
Tidak ada yang tahu apa rencananya
Kau jangan salahkan siapaun disini
Karena bukan anda atau saya yang menginginkannya
Cukup menjadi asing saja
Baiklah jika kau bersikap seperti itu
.
.
Pada akhirnya hanya aku sendiri yang terluka
Apa kau juga?
.
.
Gedung Kuliah Bersama (GKB)
Politeknik Negeri Bandung (polban)
Ruang 105
01/10/18
Untuk alpha
Menjingga saat petang menghampiri
Kau tampak semu di mata ini
Entah warna apa yang kau ciptakan
Yang kutahu
Kau adalah warnaku
.
.
Untuk saat ini
Hanya ada dua persoalan yang tak kupahami
Pertama, kenapa kau seperti itu?
Kedua, mengapa aku seperti ini?
Dan satu lagi persoalan yang sebenarnya belum terakurasi betul
Apakah kita sudah berakhir?
.
.
Rangkaian kata tanpa cerita
Disini kau berperan
Menjadi lelakon utama yang ku fokuskan
Haruskah aku mengakhirinya?
Tunggu..
Apa kita pernah memulainya?
.
.
Sulit untuk terucap lewat bibir ku
Namun wajib hukumnya kau ketahui
Bahwa tidak ada yang baik-baik saja pada diri ini
Kacau ketika kau hanya melintas didepanku
Belum lagi ketika kau tertawa pada gadis lain
Heeyy !!!!
Apakah aku tampak semu dimata mu?
.
.
Riuh bergema pada ruang ini
Sibuk bercerita ini dan itu
Terbahak bahkan tersedak
Kugenggam botol air yang baru saja kubeli
Semilir rindu merambat laun menuju telingaku
Sensor ini mengapa berfungsi kembali?
Bahkan aku mampu mendeteksi keberadaan mu
Hanya dengan tawa mu
Dari sekian jenis suara diruangan ini
Suara bass mu mampu menarik indra ku
Aahh, dia sedang bersama temannya di pojok sana
.
.
Tidak ada yang tahu apa rencananya
Kau jangan salahkan siapaun disini
Karena bukan anda atau saya yang menginginkannya
Cukup menjadi asing saja
Baiklah jika kau bersikap seperti itu
.
.
Pada akhirnya hanya aku sendiri yang terluka
Apa kau juga?
.
.
Gedung Kuliah Bersama (GKB)
Politeknik Negeri Bandung (polban)
Ruang 105
01/10/18
Untuk alpha
Sabtu, 28 November 2015
Mr.KIA (Know It All)
Title : Mr.KIA (Know It All)
Cast :
1) Lee Jong Hyun
2) Juniel
3) Kang Min Hyuk
4) Park bu yong
5) Choi jong hoon
Genre : school , romance, family.
Soundtrack :
Ø
Angel
– CNBLUE
Ø
Irony
– CNBLUE
Ø
I
Think I’m In Love - JUNIEL
Ø
Heavenly
days – yui aragaki
place :
Ø
osaka
Ø
seoul
story by :
hamano kumiko (@hana_maedi )
~selamat
membaca~
Kertas putih yang kini penuh dengan goresan
angka tak beratur berhambur di seluruh permukaan meja belajar.
Plukk.. suara remasan kertas masuk pada
tempat sampah. Damn.. kenapa gue gak
pernah connect..? gerutunya pada
diri sendiri. Juniel-ah... gumamnya.
“oppa.. ada yang mencari mu...” seru sang
adik.
“ne.. “ ujar jong hyun seraya melepaskan earphon-nya.
Dia berjalan gontai menuju seseorang yang telah menunggunya di ambang pintu. Yeoja? Batin jonghyun.
“kau mencari ku?” yeoja itupun membalikan badannya. Kau.. mengapa kau kembali...? ahk tidak.. tidak mungkin.. ini hanya halusinasi ku saja di musim panas..
fhuuhh.. batin jonghyun.
“apa kau masih mengingat ku..?” ucap si
gadis cantik berambut pirang itu. Jonghyun menatapnya lekat. Bukan, ini hanya stress ku
yang terlalu berat.. orang ini pasti si penjaga roti.. batinnya mengeluh.
“anniyo..” jawab jonghyun dengan suara
tinggi. Figur seseorang yang ada di hadapannya pun seolah terkena sihir. Wajah
yeoja yang dia lihat melainkan sosok penjual roti yang berada tidak jauh dari
kediamannya.
“yakk..! apa kau gila hah? Ini roti yang
kau pesan jauh jauh hari” ucap penjual roti dengan sedikit geram. Dia pun
meninggalkan jonghyun yang kini masih terhanyut dalam lamunannya.
“oppa.. apa kau baik baik saja?” tanya sang
adik yang muncul dari balik punggungnya.
“yeah oppa baik-baik saja.. sudah sana
kembali main.. teman mu pasti menunggu..”di balas dengan anggukan yang terlihat
cute untuk bocah berusia 5tahun itu.
“juniel apakah kita akan menjadi teman
untuk selamanya..?” tanya jonghyun kecil.
“tentu, aku dan kau itu seperti kue ulang
tahun.. tidak lengkap jika tidak ada salah satunya..” di akhiri dengan
senyuman.
“tidak, aku tidak mau kita seperti kue
ulang tahun.. karena lilin hanya akan meleleh.. sedangkan kuenya di makan..”
sembari cemberut.
“jadi..?”
“seperti rumah pohon ini” ujar jonghyun
sumringah. Juniel hanya mengerutkan keningnya bertandakan tidak mengerti.
“sudahlah lupakan, kau selalu saja seperti
itu..” ucap jonghyun berbarengan dengan kim ha joo teman adiknya. Pandangannya kini benar-benar kacau. Masa
lalunya yang selalu singgah. Masa lalu yang amat menyedihkan.
***
Upacara pembukaan pun di mulai. Jonghyun
yang berada di kelas C pun menghampiri teman-temannya. Kali ini akan baik-baik saja.. batin jonghyun.
Sekolah baru yang ia jalani kali ini adalah
sekolah ke8 selama SMA nya. Kali ini rekor terbaru diberikan oleh ayahnya
karena jonghyun mampu bertahan lebih dari 2 bulan. Umur jonghyun yang sudah menginjak 19 th
masih terlihat cute. Ya jonghyun meninggalkan sekolah SMP nya selama satu tahun
alhasil dia harus mengulang.
Jam belajarpun di mulai. Jonghyun yang kini
berada di pinggiran lapang basket merasa bosan, dia hanya bisa menonton
teman-temannya yang berlari kesana kemari sembari menggiring bola. Nukan karena
berpenyakit melainkan karena dia tidak membawa baju olahraga.
“guru saya izin ke ruang kesehatan” ujar
jonghyun.
“apa kau bisa sendiri?” jawab sang guru.
“ya..” jonghyun pun melangkahkan kakinya
menuju ruang kesehatan.
*enaknya.. mau ke uks gak pake di introgasi
dulu.. ^^ *
Kkllcc..
“kau sakit? “ tanya seseorang dari balik
tirai.
“hmm.. sangat sakit..” jawab jonghyun
langsung berbaring di ranjang kesehatan.
***
"annyeonghaseyo!! joneun choi jun hee imnida. mohon kerja samanya.
gamshahamnida." ucap choi jun hee seraya membungkukan badannya.
Jonghyun sedang asyik menulis bait-bait
puisi tidak menggubris kedatangan anak baru yang sedang berkenalan itu.
Fikirannya terhanyut dalam bait puisi yang ia buat [CNBLUE-IRONY]
Ggrreek.. suara seretan kursi terdengar
jelas di ruang kelas C.
“bolehkah aku duduk di sini?” tanya anak
baru itu kepada sang KM.
“tentu” di sertai senyuman maut khas KM
kelas C , Kang Min Hyuk.
***
“apa kali ini kau akan pindah?” tanya
minhyuk sedikit ragu.
“kau fikir aku bocah yang akan selalu
maenghabiskan uang orang tua ku ha?” jawab jonghyun enteng.
”bagus.. ayo kita ke lab musik..”
“tidak, aku ada urusan. Bilang saja aku
sakit.. atau bolos atau apalah terserah mu..” ujar jonghyun melangkah menjauh.
“yak.. kalau kau terus seperti itu kau akan
tinggal kelas lagi jonghyun” teriak minhyuk.
Di tepi perempatan jonghyun mengeluarkan
kue ulangtahun yang ia beli tempo hari. 18th terlihat jelas bentuk lilin yang menancap
pada kue. Tanjoubi omedetoo.. juniel-chan
suki desu.. gumam jonghyun lirih.
Dia meletakan kue di tepi rumah pohon kecil berwarna biru. Jonghyun pun
melangkah jauh meninggalkan tempat itu.
“ajong.. kun..”
***
“yeoboseo..”
“....”
“hai, watashi.. ”
“.....”
“baiklah akan saya kerjakan” ujar jonghyun
sembari menutup ponselnya.
Aarrrrggh..!!! teriak jonghyun penuh
frustasi.
“ada apa sayang?” tanya eomma yang datang
menghampiri jonghyun.
“anni... ” jonghyun menggeleng dan
tersenyum.
“eomma.. apa kau percaya padaku..?” tanya
jonghyun.
“jonghyun-ah.. eomma akan selalu percaya padamu..”
“aku diberi tugas oleh kepala sekolah untuk
mengisi acara ulang tahun sekolah ke 100th sekolah... TAKUJI...” ujarnya
rintih. Eomma yang terperangah mendengar ucapan anaknya itu hanya bisa bungkam.
“aku lelah..” ucap jonghyun manandakan
ingin mangakhiri perbincangan ini.
“baiklah eomma akan masak makanan kesukaan
mu.. sup..” eomma menutup pintu sembari tersenyum. Jonghyun-ah mianhae.. batin eomma.
***
[Flashback]
Jonghyun kecil yang duduk di rumah pohon
berwarna biru sedang memainkan guitarnya, diiringi dengan suara lembut juniel.
How
Awesome !
I Promise I’ll be with all of you
Even When a huge wave falls on us
I promise I’ll be with all of you
Even when the darkness falls on us
I’m so happy to sing with you
With music, we’re one. I’m proud of us
It doesn’t matter where I am, where I am
You Are with me always...
I Promise I’ll be with all of you
Even When a huge wave falls on us
I promise I’ll be with all of you
Even when the darkness falls on us
I’m so happy to sing with you
With music, we’re one. I’m proud of us
It doesn’t matter where I am, where I am
You Are with me always...
“juniel apakah kita akan menjadi teman
untuk selamanya..?” tanya jonghyun.
“tentu, aku dan kau itu seperti kue ulang
tahun.. tidak lngkap jika tidak ada salah satunya..” di akhiri dengan senyuman.
“tidak, aku tidak mau kita seperti kue
ulang tahun.. karena lilin hanya akan meleleh.. sedangkan kuenya di makan..”
sembari cemberut.
“jadi..?”
“seperti rumah pohon ini” ujar jonghyun
sumringah. Juniel hanya mengerutkan keningnya bertandakan tidak mengerti.
“sudahlah lupakan, kau selalu saja seperti
itu..” ucap jonghyun. Apa dia benar-benar
tidak tahu kalau aku sedang membuat lelucon?? Batin jonghyun sedikit kesal.
“apa kau marah?”
“tidak.. ”
“iya kau marah.. jadi apa maksudnya?” tanya juniel.
“aku hanya sedang membuat lelucon....”
wajah jonghyun langsung membelakangi juniel.
“haruskah aku tertawa?” tanya juniel polos.
Tak ada jawaban dari jonghyun.
“juniel.. ayo kita sudah sedikit
terlambat..” ujar ayahnya berteriak.
“hai...”
“jong.. apa kau marah? Gomenne.. aku akan
lebih humoris nanti... ja..” pamit juniel.
“kau mau pergi kemana?”
“raishoooo.... ” jawab juniel memeletkan lidahnya. Ajong-kun suki desu... batin juniel.
Ia pun melangkah pergi meninggalkan rumah
pohon itu.
Akankah lama? Batin
jonghyun.
***
“eomma, apa juniel tidak akan kembali
lagi.. mengapa dia pergi begitu lama..?” tanya jonghyun berbarinng di pangkuan
eommanya.
“mungkin ayah nya sibuk, jadi juniel tidak
bisa pulang cepat..” jawab eomma.
“memang mereka pergi kemana?”
“kota tokyo.. ”
“tokyo? Bukankah paman bekerja di sana
eomma? Jong ingin ke tokyo bertemu juniel..” tutur jonghyun sembari menghayal.
Ya
tuhan bagaimana ini..? batin eomma.
“jong-kun mungkin ini sudah saatnya kamu
mengetahui ini..”
“hhmm..” jawab jonghyun sembari
membaringkan tubuhnya di pangkuan eomma.
“juniel.. kecelakaan saat menuju tokyo..
dia wafat, ini sudah tahun ke 7 setelah kecelakaan, maaf eomma baru memberi
tahu mu.” ujar eomma memberanikan diri.
Tak nampak balasan dari jonghyun
“nak..?” tanya eomma sembari melihat kearah
jonghyun.
“aigo.. kau tidur?” ujar eomma dan
menggendongnya ke kamar.
tidak
aku tidak mendengar apapun...!! aku tidak mendengar itu.. juniel masih ada..!!
dia berjanji akan selalu bersamaku..!! dia sedang berlibur dengan ayahnya di
tokyo.. batin jonghyun
yang berteriak.
Haripun berganti dengan cepat. Tubuh kecil
yang bertumbuh besar. Wajah tampan yang semakin terlihat. Seoul.. apakah aku akan bail baik saja? Batin jonghyun yang berdiri
manghadap gedung sekolah SMAnya kini.
[flashback the end]
***
“hati-hati ya.. nanti akan appa jemput”
ujar seorang pria paruh baya sembari mencium kening anaknya.
“ne.. bye-bye..” melambaikan tangannya
berulang-ulang. Gadis itupun memasuki gedung sekolahnya. Dia menuju kantor
untuk mengetahiu kelas apa yang dia tempati.
“oh.. kau harus mengikuti upacara pembukaan
nanti jam 7. Di sana kau akan tahu kau masuk kelas apa” ujar salah satu guru
yang ia temui.
“baiklah” jawab gadis itu.
Dia pun berkeliling menyusuri lorong
sekolah barunya itu. Pandangannya tertuju pada sebuah ruangan kecil di pojok
gedung. Mengapa tidak ada namanya? Ruanng
apa ini? Batin gadis itu. Dia pun memasuki ruangan yang ada dihadapannya.
“oh.. ruang kesehatan..” gumamnya.
~Ada
telephon.. ada telephon..~
“mosi-mosi.. hai, watashi wa juniel
desu...”
“....”
“baiklah akan saya kerjakan” jawabnya
sedikit ragu. TAKUJI.. mengapa harus aku?
Ajong... fhuhhh.. batinnya.
Tlok tlok tlok..
“ada yang datang? Bagaimana ini?” gumam
juniel yang langsung menutupkan tirai ranjang.
Kkllcc...
“hari yang membosankan...” tutur seorang
pria yang baru saja memasuki ruangan itu.
“kau sakit? “ tanya juniel dari balik
tirai.
“hmm.. sangat sakit..” jawab pria itu
singkat.
Mendengar keluhan si pria juniel merasa
iba.. apa dia sedang dalam masalah?
Batin juniel
“ahh.. buyong-ah disini..” teriak juniel
memanggil temannya yang tempo hari di kenalnya.
“apa kau baik-baik saja?” tanya buyong
seraya menggenggam tangan juniel.
“ne.. aku baik-baik saja. Tadi aku hanya
ingin berkeliling dan masuk ke ruangan ini” tuturnya.
“kajja.. kita ke kantin”
“lho bukankah masih jam belajar?”
“ya.. kita kan jam olahraga.. kajja..
palli..” sambil menarik tangan juniel ke arah pintu.
Saat hendak keluar buyong melihat pria yang
sedang berbaring di ranjang kesehatan.
“ya.. jonghyun-ah, apa kau sakit lagi?”
tanya buyong.
“hooh..”
“ Mengapa kau sakit di setiap pelejaran
olahraga?” tuturnya seraya menutup pintu.
“kajja juniel.. kamu mau makan apa? Hoo..
iya disini jarang ada omelet..” ujar buyong yang kini berjalan menuju kantin.
“tunggu.. dia bilang apa tadi? Juniel? Apa
aku tidak salah dengar? ” gumamnya.
Tuhan...
mengapa aku menjadi gila seperti ini... batin jonghyun.
Sesampainya di kantin mereka mengambil
makanan kesukaan mereka masing-masing.
“’park bu yong-ah apa kau mengenal pria itu?” tanya
juniel yang menghadap buyong.
“oah... itu maksud mu.. itu KM kelas kita
namanya Kang Min Hyuk..” jawab buyong yang salah tangkap.
“bukan-bukan maksudku yang di ruang
kesehatan tadi”
“oh jonghyun maksud mu.. kenapa memang? Kau
mengenalnya?”
Tak ada jawaban dari mulut juniel. Ia
terdiam lama mengingat sesuatu yang janggal.
“juniel-chan..?” tanya buyong.
“ah iya,
hhmm.. buyong-ah bolehkah aku
meminta sesuatu padamu..?”
“tentu.. apa memangnya.. asalkan aku di
bolehkan main ke rumah mu..”
“hahha iya kau ini, aku ingin kau jangan
memanggilku juniel di sekolah.. panggil
saja aku choi jun hee okey..?” tutur juniel.
“”mworago...? apa terjadi sesuatu?”
“anni.. pokoknya jangan juniel..” jawabnya
dengan mengedipkan sebelah matanya.
“ish.. aku hanya akan menyukai kakak
mu...!” ujar buyong geli.
***
Di ruang kelas yang tengah sibuk akan
kegiatan masing masing. Ada yang bercerita,
membaca, dan... tidur. Masuklah
sang wali kelas di iringi oleh seorang gadis cantik yang membuat seluruh isi
kelas terkesima.
“kita kedatangan murid baru, dia pindahan
dari SMA TAKUJI utara. Jepang. Jadi silahkan perkenalkan diri anda” tutur sang
guru.
"annyeonghaseyo!! joneun choi jun hee imnida.
mohon kerja samanya. gamshahamnida." ucap juniel seraya membungkukan
badannya.
“coba lakukan dalam bahasa jepang.. ” ujar salah satu
siswa. Meskipun tidak terlalu mengerti apa maksud pria tadi juniel hanya paham
akan kata jepang.. mungkin aku harus
melakukannya dalam bahasa jepang? Batin juniel.
“hajimemashitte namae wa choi jun hii desu..” ujar
juniel.
“shitsumon ga arimasu ka” Lanjutnya.
Ruang kelas menjadi ricuh karena beberapa siswa ada
yang sibuk mencari kosa kata dalam bahasa jepang.
“jonghyun..” gumam juniel yang tidak menyangka akan
satu kelas dengan orang yang dia cari selama ini.
“saya-saya..”
“saya-saya”
“sudah-sudah, baik jun hee kau ambil kursi itu dan
silahkan cari tempat duduk yang nyaman untuk mu” ujar wali kelas.
“baik pak..” juniel pun berjalan mengambil kursinya
dan meletakkannya di kursi sebelah jonghyun. namun jonghyun tidak terlalu
memperhatikannya.
“bolehkah aku duduk di sini?” tanya juniel
pada sang KM.
“tentu” di sertai senyuman maut khas KM
kelas C , Kang Min Hyuk.
Juniel pun duduk di kursinya. Dia tak lepas
memperhatikan teman masa kecilnya itu. Jonghyun.
“konnichiwa.. namae wa kang min hyuk
desu..”
“eoh.. hajimemashitte..” jawab juniel
sembari tersennyum.
Lonceng pun berbunyi menandakan waktu
pulang.
“jun... eh jun hee.. kajja..” ajak buyong.
“ne.. kajja”
“jun hee-ssi apa kau mau masuk anggota
musik kami?” tannya minhyuk berlari menghampiri juniel.
“ya.. jun hee akan masuk anggota manapun
tidak ada hubungannya dengan mu!! Kajja jun... hee” ujar buyong sedikit kesal.
“mungkin.. bye..” jawab juniel yang ditarik paksa oleh
buyong.
Wajah Min Hyuk yang ditekukpun menjadi ceria seketika.
Bye.... jun hee.. batin min hyuk sembari cengar cengir.
“gigi noh gigi...” ujar jonghyun yang melintas di hadapan
minhyuk.
“wae...!! heoh..? hyung sepertinya aku sedang
kasmaran...” tutur min hyuk malu-malu.
“kesurupan iya...!! siapa, anak baru itu? Dalam
hitungan 2hari dia pasti lebih menyukai ku..” ledek jonghyun.
Plukk..
“yaa..!! sakit..” jonghyun meringis memegangi
kepalanya. Tapi minhyuk tak peduli. Dia malah memelototi jonghyun.
“ hyung..” ucap minhyuk sembari menyamai langkah
jonghyun.
“hhmmm... mwo..?”
“apa kali ini kau akan pindah?” tanya
minhyuk sedikit ragu.
“kau fikir aku bocah yang akan selalu
maenghabiskan uang orang tua ku ha?” jawab jonghyun enteng.
”bagus.. ayo kita ke lab musik..”
“tidak, aku ada urusan. Bilang saja aku
sakit.. atau bolos atau apalah terserah mu..” ujar jonghyun melangkah menjauh.
“yak.. kalau kau terus seperti itu kau akan
tinggal kelas lagi jonghyun” teriak minhyuk.
***
cerpen sekolah
Hembusan Cinta
Karya
Hana Maedi
“fan dimana lo?” suara kiki dari seberang telepon.
“gue di bukit biasa, belakang R.S,” jawabku singkat dan
mematikannya.
Seperti
biasa aku selalu menghabiskan waktu istirahatku di bukit dekat tempat kerjaku,
me-relax kan anggota tubuh dan fikiran ku. Ku hentikan langkah kaki ini, ketika
melihat seorang gadis duduk di tempat yang selalu ku tempati. Wajahnya merah
padam. Terlihat jelas bahwa dia sedang menangis. Aku mengingatnya, aku
mengenalnya, dia persis seperti 6 tahun yang lalu. Duduk menyendiri dan
menangis sambil menekukkan lututnya. Kuhampiri dia perlahan dan berdiri tepat
di depannya. Matanya terperejap dan melihat ke arah ku.
“Sedang sedih?” tanya ku sembari melangkah dan
duduk tepat di sampingnya.
Tak
ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Aku mencoba berfikir realistis tentang
apa yang terjadi padanya. Tapi hati ini terluka ketika melihatnya menangis.
“ini adalah tempat favoritku, suasananya sangat bersahabat
dengan ku. Apa kau juga merasakannya?” tanya ku.
“hhmm..”
jawabnya yang sama sekali tak menoleh ke arah ku. Ku luruskan kakiku. Dan
kutemukan kertas biru yang yang indah, sepertinya undangan. Hatiku semakin
sakit ketika tahu bahwa dia menangisi hal yang tidak aku inginkan.
“kamu mau nikah?” tanya ku sembari membuka lembaran
kertas undangan pernikahannya.
“Diana Putri & Aldi Rahayu P” lanjutku dengan
sedikit sunggingan di bibirku. Aldi, ternyata mereka jadi juga.
“tidak jadi, alias gagal.. dia di jodohkan oleh
keluarganya atas dasar perusahaan. Ya menurut aku sih, zaman sekarang itu
mustahil tentang perjodohan-perjodohan. Dan aku gak abis fikir, aldi diam aja
dan seharusnya dia menolak perjodohannya! Karena dia sudah niat menikah dengan
ku bulan besok. Bahkan undangan sudah tersebar. Tapi dia dengan santainya hanya
mengucapkan kata maaf dan selamat tinggal,” tutur Diana yang tampak
kesal. Tapi aku merasa senang akan penjelasan itu. Jahat.
“hemmmm.. gitu, terus kamu nangisin apa?” tanya ku
basa basi.
“ya aku kesel, bayangin dong, kita udah 6 tahun pacaran
bahkan aku sudah kenal dengan orang tuanya begitupun sebaliknya,”
ujarnya geram.
“cinta itu gak perlu dihitung berapa lama kamu pernah
bersama dia, cinta itu memang tak selamanya akan berujung manis, dan cinta itu
tak bisa kita prediksi. Orang yang bersama kita saat ini belum tentu jodoh
dengan kita, mungkin dia hanya pelengkap jalan cerita kita untuk menemukan
jodoh kita. Ketika cinta itu datang dia akan berkata ‘ya’ dialah cintamu. Jadi
jika mengalami jatuh cinta simpanlah perasaan itu, karena jika benar dia, pasti
dia pun akan merasakan hal yang sama,” ujarku dengan kata-kata yang sebenarnya sedikit konyol, karena aku
pun tidak tahu maknanya.
Diana
tampak termangu setelah mendengarkan kalimat konyol ku itu. Tapi kubiarkan dia
berfikir, mungkin dia sedang mencerna perkataanku, dan aku bisa menanyakan
artinya nanti. Kulihat jam tanganku yang melekat erat di tangan kanan ku sudah
menunjukan pukul 15:28. Aku memilih untuk mengakhirinya sebelum teman ku kiki
melihatnya. Dengan penuh senyuman Kurogoh saku baju ku dan mengambil pulpen
biru yang terselip.
“semoga sukses
akan cerita cintamu Diana.. assalamua’laikum,” ujar ku ternyum dan
bangkit.
“ya, terimakasih, wa’alaikumsalam,” jawabnya
membalas senyumanku. Aku pun melangkah pergi meninggalkan bukit ini. Namun
sebuah suara yang membuatku terhenti.
“hey.. tunggu, siapa nama-mu?”teriaknya. aku pun
menyuruhnya untuk membuka undangan dekat sepatunya dengan isyarat
sejadi-jadinya. Tapi dia terlitah tidakmengerti maksudku. Ponselku terus
bergetar manandakan aku harus cepat kembali ke R.S akupun segera menuju tempat
kerjaku, walau sebenarnya aku masih ingin berbincang dengannya. Entahlah dia
akan tahu namaku atau tidak tapi kalau jodoh mungkin kita akan di pertemukan
kembali.
Senja
menuju petang, langit orange yang indah serta suara jangkrik yang bersautan. Ku
lihat jam tanganku menunjukan pukul 17:45. Waktu yang sangat ku tunggu-tunggu. Weekend.
Harinya aku beristirahat.
“gak pulang fan?” tanya kiki yang merapihkan
perlengkapannya.
“nanti lagi deh, masih betah, mau tiduran dulu,”
“oh iya tadi lo bilang kemarin lo ketemu diana?”
tanya kiki mendekat ke arah ku.
“oooh iya.. tapi dia gak kenal sama gue..,” jawabku
sedikit malu.
“miris banget hidup lo, suka yang terpendam selama 7
tahun, tapi orang yang lo suka gak kenal sama lo? hahahhh” tawanya
berbahagia.
“ya, Allah itu adil ki, mungkin gue harus sabar sekarang,
sabar itu buahnya indah kiki...,” jawabku menghibur diri.
“ lo udah sabar 7 tahun, terus manisnya kapan? Asal lo
tahu ya yang manis itu gula...! ” ujar kiki dan ngibrit pergi. Dasar!!
“magrib dulu woy!!!” teriak ku kepada kiki.
“ntar di rumah aje,” jawabnya seperti anak kecil.
Akupun
melangkah menuju masjid megah di samping R.S untuk menunaikan shalat magrib.
Sesudah menjalankan shalat akupun menuju halte untuk pulang menuju rumah. Salju
yang membuat suhu begitu dingin, mungkin seperti hatiku, mungkin.
“alfan?” ujar gadis di sampinngku. Aku tidak
mengenalnya, karena dia menggunakan syal yang menutupi separuh wajahnya.
“ini aku diana” dia pun membuka syalnya.
“oh aku kira siapa?” tawaku ringan. Tunggu, dia
mengenalku?
“kau mengenalku?” tanyaku sedikit kikuk. Diana
hanya membalas dengan senyuman. Dia cantik.
“oh iya aku lupa, aku kan yang menuliskan nama ku di
unganganmu,”
“tidak, ternyata aku mengenalmu cukup lama. Kamu teman
seangkatan ku kan saat di SMA?” tanya diana.
“oh kau menyadarinya,” jawabku sedikit malu.
“tadinya sih tidak, tapi saat membaca nama-mu di undangan,
aku merasa tidak asing dengan nama-mu, jadi ku membaca buku harianku dan
menemukan namamu di sana,”
Aku
termangu mendengarnya. Suara gadis ini, ingin selalu ku dengar.
“ini, lihat aku masih menyimpannya” tutur diana
menunjukan kalung berliontin kancing biru. Ah itu ungkapan cintaku saat
kelulusan.
“terimakasih sudah menyukaiku saat SMA, dan maaf aku tidak
menyadarinya,” ujarnya sedikit merasa bersalah.
persaan
ku padamu saat SMA, masih sama sampai saat ini gumamku, aku terbawa atmosfer
yang membuat diriku menjadi seberani ini. Gadis di sampingku saat ini, aku
sangat menyayanginya, diana...
-TAMAT-
Langganan:
Postingan (Atom)